Selasa, 07 April 2015

EKSISTENSI DIRI

Sebuah ungkapan yang barangkali sudah sering kita dengar 
“Cogito Ergo Sum",(saya berfikir maka saya ada) bila kita berbicara mengenai eksistensi diri seseorang.Itulah ungkapan yang keluar dari seorang filsuf Perancis Rene Descartes. 

Bagi saya eksistensi diri itu penting untuk dipertanyakan pada diri kita. Bagi saya eksistensi diri adalah manifestasi dari kualitas diri, seseorang tidak akan diakui eksistensinya apabila ia tidak memiliki kualitas yang secara mencolok berbeda atau lebih dari orang lain. Bukan asal berbeda tetapi juga berkualitas.Anak Baru Gede biasanya akan mencari ekspresi untuk menunjukkan bahwa ia bukan anak-anak lagi. Mereka ingin diakui eksistensinya sebagai anak yang sudah dewasa dengan ekspresi yang kadang aneh.

Sesungguhnya eksistensi adalah sesuatu yang inherent pada diri seseorang.Tidak usah menonjol-nonjolkan diri kalau memang memiliki kelebihan maka orang lain akan mengakui kelebihan tersebut.Tinggal bagi kita sekarang akan diarahkan kemana diri kita. 

Orang yang berorientasi pada materi tentu akan sibuk mengejar materi untuk menunjukkan eksistensi dirinya yang diukur dengan uang. 

Orang yang berorientasi pada karier tentu akan disibukkan dengan aktivitas yang menungjang kariernya. Orang yang berorientasi pada keberhasilan anak-anaknya tentu akn berusaha semaksimal mungkin agar anak-anaknya berhasil. Bagi saya semua sah-sah saja, karena itu adalah pilihan hidup.Yang menjadi persoalan adalah jika kita ingin diakui eksistensi diri kita tetapi menggunakan cara-cara yang tidak sehat dan tidak mengikuti hukum alam.Bahwa siapa yang menanam tentu berhak untuk memanen hasilnya.Kalau tidak menanam kebaikan jangan berharap akan memanen kebaikan.

NASIHAT UNTUK DIRI SENDIRI

Dalam hidup ini terkadang ada hal-hal yang tidak kita duga bisa terjadi.Persoalan seolah seperti gelombang yang datang silih berganti tanpa memberi kesempatan kepada kita untuk sekedar bernafas,mengambil jeda satu persoalan ke persoalan yang lain. 

Penting untuk dijadikan pegangan bahwa jangan pernah berfikir bahwa hidup adalah untuk bersenang-senang, fikirkanlah hidup ini adalah untuk berjuang karena sesungguhnya hidup ini adalah lahan untuk perjuangan. Kalau kita membayangkan hidup ini untuk bersenang-senang maka pastilah banyak yang mengecewakan dalam hidup ini. Kalau yang kita fikirkan adalah berjuang,niscaya banyak kesenangan akan kita dapat.

Pikiran dan keinginan setiap orang tidaklah selalu sama, tidaklah mudah atau hampir mustahil untuk mengakomodasi semua keinginan itu, tetapi berpihak pada satu keinginan orang bukanlah sikap yang adil.Objektif,netral dan kemandirian sikap adalah kompromi terbaik yang bisa ditempuh.

Pikirkanlah secara jernih dan masak-masak segala pilihan yang akan diambil, dengan mempertimbangkan banyak aspek, jangan lupa istikharah-lah pada Allah SWT. Jika pilihan sudah dijatuhkan, istiqamahlah dalam pilihan itu,dan jangan pernah bergeming walau evaluasi tetap perlu. Jika sudah demikian kesalahan tetap bernilai 1, sedang pilihan benar bernilai 2.Berbuat baiklah pada semua orang, walau berbeda pandangan dan pendapat.Kebaikan perbuatan dan akhlak lebih bernilai daripada kebenaran dan kebaikan pendapatmu sendiri.

Galilah lebih dalam setiap proses memperoleh ilmu dan pengetahuan.Tidak pernah ada jalan pintas untuk memperoleh kedalaman ilmu dan pengetahuan.Bekerja dan berjuanglah dengan giat,karena tidak pernah pula ada jalan pintas untuk mencapai kemakmuran,apalagi jalan pintas menuju surga.Meski surga itu seluas langit dan bumi bukan berarti jalan masuk kesana mudah.Tekun ibadah dan berbudi mulia adalah jalan untuk memperoleh itu.

Tidak ada komentar: